Menurutnya, proses pembelajaran di sekolah seharusnya tidak berhenti pada pemahaman materi semata, tetapi harus mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia menekankan pentingnya pendekatan pembelajaran yang lebih aplikatif agar ilmu yang diperoleh benar-benar bermanfaat.
“Selama ini kita terlalu banyak belajar, tetapi minim penerapan. Itu yang membuat kita sulit berkembang,” ujarnya.
Sebagai ilustrasi, ia mencontohkan materi energi terbarukan yang dipelajari siswa. Ia menilai, pembahasan tersebut perlu dilanjutkan dengan praktik langsung agar siswa memahami manfaatnya secara konkret.
“Materi di kelas itu hanya dasar. Yang lebih penting, siswa bisa mengimplementasikannya, misalnya mengolah bahan seperti sawit menjadi energi alternatif yang bisa digunakan sehari-hari,” jelasnya.
Lebih lanjut, Dedi menyebut bahwa kemampuan akademik saja belum cukup. Siswa yang mampu mengembangkan ilmu menjadi sesuatu yang praktis dan bernilai guna dinilai memiliki keunggulan lebih.
“Kalau hanya unggul secara akademik, itu sudah baik. Tapi kalau bisa mengolahnya menjadi sesuatu yang teknis dan aplikatif, tentu nilainya lebih tinggi,” tutupnya.
DY