Resiliensi
Psikologis Rakyat Aceh
Oleh: Aura
Salsabila, Mahasiswi UIN Ar-Raniry
Ada sebuah
ungkapan yang masih hidup atau masih dikenang sampai sekarang dari generasi ke
generasi oleh rakyat Aceh yaitu “Adat bak Pôteumeureuhoem, huköm bak
Syiah Kuala.” yang maksudnya Adat dikendalikan oleh penguasa, hukum
dikendalikan Ulama. Kalimat tersebut berfungsi sebagai jangkar psikologis
rakyat Aceh di saat badai yang datang silih berganti bahkan sampai sekarang.
Tiga Luka
Besar, Satu Jiwa Yang Bertahan
Sulit untuk
menemukan masyarakat lain di Indonesia, atau bahkan di dunia, yang dalam
rentang waktu satu generasi mengalami tiga trauma berskala besar sekaligus:
Konflik bersenjata selama 30 tahun, bencana tsunami paling mematikan di abad
ini, dan banjir bandang yang Kembali menghapus desa-desa dari peta dipenghujung
tahun 2025 lalu.
Konflik Gerakan
Aceh Merdeka (GAM) versus TNI bukan hanya sekadar perang fisik, ini merupakan
luka psikologis yang diwariskan. Anak-anak Aceh yang lahir tahun 1990-an hingga
2000 tumbuh besar dengan suara tembakan sebagai latar belakang kehidupan
sehari-hari. Mereka tumbuh dengan rasa curiga yang dibenarkan oleh pengalaman
nyata.
Lalu, pada pagi
26 Desember 2004 setelah gempa megathrust pada pukul 07.59 WIB terjadi, laut
datang untuk mengambil segalanya. Bencana tsunami kembali memperparah kondisi
psikologis rakyat Aceh yang telah rapuh sebelumnya akibat konflik yang
berkepanjangan. Dua trauma besar itu tidak datang dengan jeda pemulihan; ia
menghantam jiwa yang bahkan belum bisa berdiri tegak.
Sejarah seperti
sedang menguji kembali, bukan lewat desingan peluru ataupun gelombang air laut
dari kedalaman samudra, melainkan luapan dari hulu sungai dan lereng bukit yang
tidak lagi mampu menahan air. Banjir bandang pada 27 November 2025 kembali menghapus
permukiman masyarakat dari peta. Sekitar 22 desa di 7 kabupaten dilaporkan
hilang.
Iman Sebagai
Fondasi Psikologis
Untuk memahami
resiliensi rakyat Aceh di tengah gempuran bencana fisik dan sosial ini, kita
tidak bisa mengabaikan satu variabel utama: keimanan.
Dalam psikologi,
konsep meaning-making, yaitu kemampuan seseorang untuk menemukan makna dari
penderitaan, adalah salah satu prediktor terkuat pascatrauma. Dan bagi
rakyat Aceh, Islam bukanlah sebatas agama formal yang dijalankan dalam ritual.
Ia adalah kerangka interpretasi yang mengubah musibah menjadi ujian, kematian
dalam bencana menjadi syahid, dan bahkan penderitaan menjadi jalan menuju
kemuliaan.
Psikolog Viktor Frankl, yang selamat dari kamp konsentrasi
Nazi, menulis bahwa manusia bisa bertahan dalam kondisi yang sangat mengerikan
sekalipun asal mereka punya alasan untuk bertahan. Bagi rakyat Aceh, iman
adalah salah satu alasan mereka untuk bertahan, dan ini terbukti bahkan sebelum
adanya istilah psychological resilience dalam kosakata akademik.
Resiliensi
Bukan Tanpa Biaya, Harapan Bukan Tanpa Syarat
Stigma terhadap
kesehatan mental masih sangatlah tinggi di Aceh. Banyak penyintas yang tidak
pernah mendapatkan penanganan klinis, bukan karena mereka tidak membutuhkan,
melainkan karena kata “tabah” terlanjur dianggap cukup. Padahal, tabah tanpa pemulihan yang sesungguhnya
hanyalah luka yang ditutup rapat, bukan luka yang sembuh.
Namun, ditengah
semua itu, ada satu faktor yang terus menyala: harapan. Harapan untuk
membahagiakan orang tua, harapan untuk masa depan yang lebih baik, dan harapan
untuk membantu mereka yang lebih tidak beruntung. Harapan itu bukanlah ilusi
semata; ini adalah pilihan aktif yang dibuat setiap hari, oleh jiwa-jiwa yang
sebenarnya sudah kelelahan.
Tapi harapan
tidak bisa bekerja sendirian selamanya. Banjir bandang pada 2025 kembali
membuktikan bahwa ketangguhan rakyat Aceh tidak seharusnya menjadi alasan bagi
negara untuk hadir setengah hati. Meunasah tidak boleh menjadi satu-satunya
tempat untuk berlindung. Hutan Leuser tidak boleh terus menyusut sementara
regulasi perlindungannya dibiarkan tumpul. Dan trauma yang terus menumpuk dari
generasi ke generasi tidak boleh terus dibiarkan untuk diobati oleh
masing-masing jiwa yang kelelahan.
Rakyat Aceh bukan bangsa yang tidak pernah terluka. Mereka
adalah bangsa yang terlalu sering terluka – namun selalu memilih untuk bangkit
bersama-sama, bahkan ketika negara tak kunjung hadir. Pertanyaannya bukan lagi:
seberapa kuat rakyat Aceh? Pertanyaan yang tepat adalah: sampai kapan kekuatan
itu harus terus dipakai untuk menambal absennya negara?
