Serambiupdate.com - Universitas Paramadina Kampus Cipayung bersama Nagasaki Women’s Junior College dan AWINA memperkuat hubungan persahabatan Indonesia–Jepang melalui kegiatan Bridges Beyond Borders: Strengthening Friendship Through Cultural Understanding and Global Collaboration, Senin (31/8).
Kegiatan yang berlangsung di Aula TP Rachmat, Universitas
Paramadina Kampus Cipayung, tersebut menjadi ruang pertukaran perspektif
mengenai budaya, sejarah, pendidikan, dan hubungan antarmasyarakat Indonesia
dan Jepang.
Hadir sebagai pembicara Dr. Rizki Damayanti, Ketua Program
Studi Hubungan Internasional Universitas Paramadina; Asriana Issa Sofia, MA, Dosen
Program Studi Hubungan Internasional Universitas Paramadina; Iwamoto Yoshinori
dari Nagasaki Women’s Junior College; Yulian Fathinah, S.STP., Lurah Cipayung;
serta Dr. Peni Hanggarini, Director of Marketing dan Beasiswa Universitas
Paramadina sekaligus dosen Paramadina Graduate School of Diplomacy.
Dr. Rizki Damayanti, mengatakan hubungan antarnegara tidak
hanya dibangun melalui diplomasi dan kerja sama antarpemerintah, tetapi juga
melalui hubungan antarmanusia atau people-to-people connections.
“Hubungan antarnegara tidak hanya dibangun melalui hubungan
diplomatik dan kerja sama antarpemerintah, tetapi juga melalui people-to-people
connections, melalui pertemanan, pendidikan, kebudayaan, dan pengalaman yang
kita bagikan bersama,” ujar Rizki.
Menurutnya, hubungan Indonesia dan Jepang yang telah
berlangsung panjang perlu terus diperkuat melalui mutual understanding, yakni
kemauan untuk saling memahami cara berpikir, berinteraksi, menghargai budaya,
dan melihat dunia.
“Kami percaya, generasi muda adalah jembatan terbaik untuk
membangun hubungan tersebut,” katanya.
Sementara itu Asriana Issa Sofia memaparkan perjalanan
panjang hubungan Indonesia dan Jepang, dari masa konflik dan pendudukan menuju
rekonsiliasi, kerja sama pembangunan, hingga berkembang menjadi kemitraan
strategis multidimensi.
Hubungan kedua negara digambarkan mengalami transformasi
dari pengalaman traumatis dan proses rekonsiliasi menuju hubungan diplomatik
yang semakin luas, termasuk melalui kerja sama pembangunan, infrastruktur,
teknologi, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia.
Salah satu tonggak penting yang disoroti adalah Fukuda
Doctrine pada 1977 yang menekankan hubungan yang setara dan saling
menguntungkan, sekaligus memperkuat people-to-people relations melalui
pertukaran budaya, pendidikan, dan pemahaman antarmasyarakat.
“Hubungan Indonesia–Jepang pada perkembangan berikutnya juga
semakin multidimensional, mencakup perdagangan, investasi, energi,
infrastruktur, pendidikan, teknologi, keamanan, maritim, dan kerangka
Indo-Pasifik.” Katanya.
Sementara itu, Iwamoto Yoshinori membawa perspektif personal
melalui kisah keluarganya di Nagasaki. Ia menceritakan bagaimana ibunya selamat
dari bom atom Nagasaki pada 9 Agustus 1945, meski kehilangan seluruh anggota
keluarganya dan kemudian menghadapi diskriminasi sebagai penyintas.
“Saya lahir karena ibu saya tidak pernah menyerah,” ujar
Iwamoto. Ia memaknai kisah tersebut sebagai bukti pentingnya hubungan kehidupan
antargenerasi. “Ibu saya memberikan hidupnya kepada saya. Kehidupan beliau terhubung
dengan kehidupan saya,” lanjutnya.
Iwamoto juga mengungkapkan bahwa hubungan Nagasaki dan
Indonesia telah berlangsung selama berabad-abad. Pada masa Edo, gula dari
Indonesia menjadi salah satu komoditas yang masuk ke Nagasaki melalui
perdagangan internasional dan turut memengaruhi budaya pangan kota tersebut. Ia
mengaitkannya dengan sejarah Castella, kue tradisional yang identik dengan
Nagasaki.
“Saya sangat senang Universitas Paramadina dan Nagasaki
Women’s Junior College dapat bersatu, melintasi batas negara, dan
menyelenggarakan kegiatan seperti ini,” kata Iwamoto.
Dr. Peni Hanggarini, mengatakan Bridges Beyond Borders bukan
sekadar kegiatan memperkenalkan budaya Indonesia dan Jepang, tetapi merupakan
upaya membangun jembatan persahabatan antara kedua negara, masyarakat, dan
generasi muda.
“Bagi Universitas Paramadina, Bridges Beyond Borders bukan
sekadar tentang memperkenalkan budaya Indonesia dan Jepang, tetapi tentang
membangun jembatan—jembatan persahabatan antara Indonesia dan Jepang, antara
masyarakat dan generasi muda, serta antara dua budaya yang mungkin berbeda,
tetapi memiliki banyak hal untuk dipelajari dan dibagikan bersama,” ujar Peni.
Menurutnya, kegiatan tersebut sejalan dengan semangat
Universitas Paramadina sebagai kampus peradaban dan kampus global yang terbuka
terhadap dunia, mampu berdialog dengan masyarakat internasional, sekaligus
memperkenalkan Indonesia kepada dunia.
Kegiatan Bridges Beyond Borders menegaskan bahwa
persahabatan Indonesia–Jepang dapat terus dibangun melalui pendidikan,
pemahaman budaya, pertukaran pengalaman, dan hubungan antarmanusia. Universitas
dan lembaga pendidikan memiliki peran penting dalam menciptakan jembatan yang
melampaui batas negara serta memperkuat kerja sama generasi mendatang.
