Serambiupdate.com - Kapolda Metro Jaya Komjen Pol. Prof. Dadang Hartanto mengimbau para guru SD Muhammadiyah 5 Kebayoran Baru untuk memperkenalkan literasi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kepada siswa sejak dini. Upaya ini dinilai penting untuk memperluas pemahaman anak mengenai teknologi sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis.
Imbauan tersebut disampaikan Dadang saat menghadiri program Polisi Peduli Pendidikan di SD Muhammadiyah 5 Kebayoran Baru. Ia menyoroti pentingnya pemanfaatan laboratorium AI sebagai fasilitas untuk mengenalkan teknologi, memperluas wawasan, serta mengasah keterampilan komunikasi siswa.
“Siapa yang menguasai teknologi, akan menguasai dunia,” ujar Dadang dalam kegiatan Polisi Peduli Pendidikan di SD Muhammadiyah 5 Kebayoran Baru.
Ia menjelaskan bahwa rasa ingin tahu dan kemampuan bernalar anak perlu dikembangkan melalui metode pembelajaran yang menarik. Pertanyaan sederhana, seperti bagaimana mesin dapat berbicara, dapat menjadi titik awal bagi siswa untuk mengenal teknologi sekaligus melatih pola pikir kritis.
“Oleh karena itu, guru perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya, bereksplorasi, dan mempelajari konsep-konsep dasar melalui metode pembelajaran yang sederhana, menarik, serta dilakukan secara berulang,” tuturnya.
Dadang turut mengajak para pendidik untuk menggunakan metode pembelajaran yang sistematis, mudah dimengerti, dan tidak membebani siswa dengan terlalu banyak materi. Menurutnya, pembelajaran perlu disesuaikan dengan tingkat pemahaman anak agar pengetahuan dapat diterima secara maksimal.
Dalam pembelajaran agama, ia menegaskan bahwa siswa perlu memahami makna ajaran yang dipelajari, bukan hanya menghafalkannya. Salah satu penerapannya ialah melalui pembelajaran Al-Qur'an dengan memperkenalkan arti setiap kata dan kaidah tajwid, sehingga siswa tidak hanya mampu membaca, tetapi juga memahami pesan serta nilai yang terkandung di dalamnya.
“Di antaranya melalui pembelajaran Al-Qur'an dengan mengenalkan arti kata demi kata, disertai pemahaman hukum tajwid, agar anak tidak sekadar bisa membaca, tetapi juga mengerti nilai-nilai yang diajarkan,” katanya.
Selain mendorong pengembangan pengetahuan dan karakter, Dadang menekankan perlunya menghadirkan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi siswa. Anak-anak perlu dibiasakan untuk saling menghormati, menghindari perilaku perundungan, serta tidak ragu melaporkan kepada guru atau orang tua apabila menghadapi situasi yang membuat mereka merasa tidak nyaman.
“Keberadaan polisi di lingkungan pendidikan juga diharapkan dapat membuat anak-anak semakin mengenal polisi sebagai sahabat yang siap memberikan perlindungan dan bantuan, termasuk melalui layanan Polisi 110 ketika menghadapi keadaan darurat,” ungkap Dadang.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Budi Hermanto menjelaskan bahwa program Polisi Peduli Pendidikan merupakan salah satu langkah kepolisian untuk membangun kedekatan dengan anak-anak sekaligus mendukung guru dan orang tua dalam membentuk generasi yang berkarakter, berwawasan luas, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.
“Rasa aman bagi anak tidak dapat diwujudkan oleh satu pihak saja. Orang tua, guru, lingkungan sekitar, dan kepolisian perlu menjalin komunikasi serta saling menjaga. Ketika anak merasa didengarkan dan berani bercerita, berbagai persoalan dapat terdeteksi lebih dini sehingga penanganan yang tepat dapat segera diberikan,” jelasnya.
Melalui program ini, Polda Metro Jaya berharap sekolah dapat berfungsi tidak hanya sebagai tempat memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang yang mendukung pembentukan karakter, pengembangan kreativitas, dan kemampuan anak dalam menyikapi kemajuan teknologi secara bijaksana.