Notification

×

Iklan

Iklan

Psikologi Tasawuf; Sebagai Upaya Transformasi Diri

08 Februari 2026 | Minggu, Februari 08, 2026 WIB | Last Updated 2026-02-08T01:54:48Z

Oleh: M. Abdul Halim Sani, Dosen Psikologi Uhamka

Psikologi merupakan ilmu yang membahas tentang prilaku yang dilakukan oleh manusia. Prilaku ini didasari dari ide ataupun respon yang diterima manusia dari lingkungan. Keilmuan ini berkembang di Barat dan banyak dikontektualisasikan dalam masyarakat timur. Psikologi yang di Barat mencoba memahami manusia dalam dimensi biologis dan neurosains sehingga tidak terkoneksikan dengan sumber manusia. Oleh karena itu kajian tentang manusia di Barat kehilangan dirinya yang sejati. Kajian tersebut menjadikan manusia terkesan kering dalam spiritualitas dan lahirlah psikologi Islam pada akhir abad 19. Tulisan ini, ingin menguraikan Psikologi tasawuf (psikologi Sufisme) adalah cabang ilmu yang menghubungkan pemahaman psikologi modern dengan tradisi spiritual Sufi dalam Islam.  Secara sederhana dalam psikologi tasawuf mendialogkan keilmuan psikologi dengan sufisme dimana sufisme merupakan pembersihan jiwa dalam ajaran Islam sehingga dapat menjadi diri yang lebih baik.


Psikologi ini mengkaji perilaku manusia dengan menggunakan prinsip-prinsip spiritual yang terdapat dalam ajaran tasawuf, dengan fokus pada penyucian diri dan pengembangan kesejahteraan dan kesehatan mental melalui pengalaman spiritual langsung. Berbeda dengan psikologi sekuler, psikologi tasawuf menekankan pentingnya hubungan manusia dengan Tuhan dan pemahaman diri melalui tahapan spiritual yang mendalam. Dalam artikel ini, kami akan membahas orientasi psikologi tasawuf, tahapan dalam perjalanan spiritual menurut Ibn Arabi, serta objek kajian utama dalam psikologi tasawuf seperti ego, taubat, dan transformasi diri.


Relasi Agama dan Tasawuf dalam Psikologi

Agama dalam konteks tasawuf berfungsi sebagai jalan menuju pemahaman hakikat kehidupan yang sejati dimana dalam kehidupan diorientasikan pengabdian kepada Tuhan. Oleh karena itu, dalam tasawuf bukan hanya sekadar ajaran moral atau hukum agama (Syariah), melainkan juga suatu sistem yang membawa individu pada pengalaman spiritual yang mendalam, yang diyakini dapat membantu mengatasi permasalahan psikologis. Ajaran tasawuf berhubungan erat dengan pencapaian kesejahteraan mental, karena membantu individu memahami makna kehidupan dan mengatasi perasaan negatif yang sering kali menghambat kesehatan mental.


Menurut Al Halim dan Mohammed (2024), tasawuf memiliki pendekatan terapeutik terhadap permasalahan psikologis di masyarakat modern. Dalam tasawuf yang dilakukan oleh individu melakukan pencapaian kedamaian batin dengan penyucian diri melalui amalan spiritual. Penyucian diri dan amalan ini berdampak ketenangan batin sehingga dapat mengatasi kecemasan dan stres yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, terdapat empat konsep tahapan spiritual yang diungkapkan oleh Ibn Arabi yakni; Syariah, Thariqah, Haqiqah, dan Ma’rifah. Tahapan ini,  menggambarkan perjalanan yang harus dilalui shalik untuk mencapai pemahaman diri yang lebih baik, tinggi dan hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan dalam rangka melakukan tindakan kemanusiaan.


Tahapan dalam Perjalanan Spiritual Sufi

Ibn Arabi menggambarkan perjalanan spiritual melalui empat tahapan utama, yang masing-masing tidak hanya mengarahkan seseorang untuk memperbaiki perilaku eksternal, tetapi juga untuk menjalani transformasi batin yang mendalam dan memberian prilaku yang mulia yang berdampak kemanusiaan.

  1. Syariah (Ajaran Moral dan Etika)
    Tahap pertama ini mengarah pada ajaran moral dan etika Islam yang memberikan panduan dalam menjalani kehidupan dengan benar. Menurut Wulandari (2017), Syariah adalah dasar bagi seseorang yang ingin memasuki jalan spiritual Sufi. Di dalam psikologi tasawuf, ketaatan terhadap prinsip syariah menjadi fondasi untuk mencapai kedamaian batin, yang memungkinkan individu untuk menghadapi masalah duniawi dengan lebih tenang. Syariah ini menjadikan manusia bertindak berdasarkan ajaran agama sehingga bentindak dengan kebenaran, dan sabar dalam menghadapi masa kesulitan sehingga menjadi pribadi yang tangguh dalam kehidupan.
  2. Thariqah (Jalan Spiritual)
    Pada tahap ini, individu mulai melibatkan diri dalam praktik-praktik spiritual seperti dzikir, sholat sunnah, dan perenungan yang bertujuan untuk membersihkan jiwa dari kekotoran dan nafsu. Mitha (2019) menjelaskan bahwa thariqah memiliki peran yang penting dalam psikologi tasawuf karena membantu individu mengatasi perasaan negatif dan kecemasan, dengan mendekatkan diri kepada Tuhan melalui amalan spiritual yang rutin. Thariqah dapat dilihat sebagai terapi spiritual yang efektif untuk mengurangi stres dan kecemasan, yang kerap kali menjadi masalah psikologis yang menghambat kesehatan mental. Thariqah merupakan pengamalan ibadah dengan memaknainya dengan batinnya sehingga berdampak bagi individu menjadi jiwa yang bersih. Jiwa yang bersih berusaha menghindari dari dosa dan memperbanyak amal Sholeh dalam mendekatkan diri pada Tuhan
  3. Haqiqah (Kebenaran Spiritual)
    Setelah melalui tahap penyucian diri, individu memasuki tahap haqiqah, yaitu tahap di mana seseorang merasakan kebenaran spiritual secara langsung terkoneksi dengan Tuhan. Dalam konteks psikologi tasawuf, haqiqah adalah puncak dari pemahaman batin yang memberikan kedamaian dan kebijaksanaan yang tidak bisa dicapai hanya melalui akal, namun oleh pengalaman batin. Al-Owidha (2024) mencatat bahwa pada tahap ini, individu memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang hakikat kehidupan dan hubungan manusia dengan Tuhan, yang pada gilirannya mengurangi perasaan ketidakpastian dan ketakutan yang sering mengganggu kesehatan mental. Konteks hakikat dalam psikologi menjadikan jiwa bersama dengan Tuhan sehingga dalam kehidupan menjadi tenang dan damai sehingga meberikan kebaikan pada sesama dengan amal kajikan universal.
  4. Ma’rifah (Pengetahuan Spiritual)
    Ma’rifah merupakan pengetahuan batin yang diperoleh setelah mencapai kedalaman spiritual setelah bersama Tuhan. Menurut Saeed et al. (2021), pengetahuan ini memungkinkan individu untuk melihat dunia dari perspektif yang lebih luas dan lebih bijaksana. Di tahap ini, individu yang telah mencapai Ma’rifah tidak hanya memiliki pengetahuan intelektual, tetapi juga kebijaksanaan dan kedamaian batin yang luar biasa. Hal ini sejalan dengan teori psikologi yang menekankan pentingnya pengembangan kesadaran diri dalam mencapai kesejahteraan psikologis dengan memberikan manfaat pada alam dan sesama manusia.

 

 Psikologi Tasawuf: Objek Kajian dan Pemahaman Diri

Objek dalam psikologi ini merupakan diri sendiri, sehingga kajiannya merupakan diri dalam dari berbagai macam persfektif.  Beberapa objek kajian utama dalam psikologi tasawuf, seperti ego (nafs), taubat, transformasi diri, dan kamillah. Objek kajian ini merupakan hal yang mendasar dalam diri manusia dan  memiliki hubungan erat dengan penyucian jiwa dan pencapaian kesejahteraan mental.

  1. Ego (Nafsu)
    Ego atau nafs merupakan salah satu objek kajian utama dalam psikologi tasawuf. Nafsu yang tidak terkendali menjadi sumber utama dari konflik batin dan gangguan psikologis seperti kecemasan dan stres. Bahkan manusia yang tidak dapat mengendalikan egonya menjadi mahluk yang lebih hina dari binatang. Oleh karena itu, psikologi ini menjadi hal yang penting sebagai mana di ungkapkan oleh Wahyudi (2020) menjelaskan bahwa pengendalian ego melalui amalan tasawuf adalah langkah pertama yang perlu diambil untuk mencapai transformasi diri. Psikologi modern juga mengakui pentingnya pengendalian ego dalam meningkatkan kesehatan mental, yang selaras dengan ajaran tasawuf sebagai jantung dari Islam.
  2. Taubat (Pertobatan)
    Taubat dalam psikologi tasawuf bukan hanya sekadar bertobat dari dosa, tetapi juga sebagai proses penyucian hati dari kekotoran batin. Tobat merupakan pintu yang awal dalam membersihkan diri dimana mengakui kesalahan dan mencoba memperbaikinya. Penelitian oleh Firat (2020) menunjukkan bahwa taubat merupakan langkah awal yang penting dalam proses transformasi diri. Taubat memungkinkan individu untuk melepaskan perasaan bersalah dan kecemasan yang disebabkan oleh tindakan masa lalu, yang pada gilirannya membantu mereka untuk memperoleh kedamaian batin.
  3. Transformasi Diri
    Transformasi diri dalam psikologi tasawuf adalah proses perubahan dari individu yang terikat oleh nafsu dan ego menuju individu yang lebih spiritual dan berbuat kemanusian. Saeed dan Sodiq (2023) menjelaskan bahwa transformasi diri melibatkan proses pengembangan kesadaran batin yang lebih tinggi, yang berfokus pada penghilangan sifat negatif dan peningkatan kualitas mental yang lebih baik. Peningkatan kualitas yang lebih baik ditandai dengan individu yang tumbuh untuk menjadi lebih baik dalam bernuat untuk alam dan sesama dalam rangka mendekatkan diri pada Tuhan.
  4. Kamillah (Kesempurnaan Spiritual)
    Kamillah adalah tahap akhir dalam psikologi tasawuf, di mana individu mencapai kesempurnaan spiritual dalam hubungan mereka dengan Tuhan, samama manusia dan alam semesta. Dalam pandangan Haryanto & Muslih (2024), Kamillah bukan hanya pencapaian spiritual, tetapi juga mencerminkan kebijaksanaan dalam tindakan dan pemahaman yang mendalam tentang hakikat kehidupan. Kamillah menjadikan diri yang matang secara psikologis dengan aktualisasi beribadah secara seimbang dengan memberikan kebaikan dan kemaslahatan pada sesama manusia dan alam. Pada tahap ini, individu merasakan kedamaian batin yang mendalam, yang membantu mereka untuk menjalani kehidupan dengan lebih seimbang secara psikologis. Relasi manusia dengan alam dilakukan tanpa adanya tumpeng tindih, namun membuat alam makin indah, terjaga keasriannya dan tidak menyebabkan kerusakan yang mendatangkan bencana bagi manusia.

 

Psikologi tasawuf menawarkan pemahaman yang unik mengenai perilaku manusia, dengan menekankan pentingnya dimensi spiritual dalam pengembangan diri. Melalui tahapan-tahapan spiritual seperti Syariah, Thariqah, Haqiqah, dan Ma’rifah, individu dapat mencapai kesempurnaan batin yang membawa kedamaian psikologis. Dengan mengintegrasikan ajaran tasawuf dalam kehidupan sehari-hari, individu dapat mengatasi permasalahan psikologis seperti kecemasan dan stres, serta mencapai kesejahteraan batin yang lebih holistik.

 

Daftar Bacaan

  1. Al Halim, A., & Mohammed, NKW. (2024). Sufism As Therapy Psychological Problems of Modern Society. Advances in Humanities and Social Sciences.
  2. Wulandari, A. (2017). Nafs in Sufism Psychology: Robert Frager's Perspective. Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora.
  3. Mitha, K. (2019). Sufism and Healing. Journal of Spirituality in Mental Health.
  4. Wahyudi, MA. (2020). Psychological Well-Being of Sufism Practitioners as A Sufistic Counseling. Jurnal Konseling Religi.
  5. Haryanto, S., & Muslih, M. (2024). Integration of Sufism and Transpersonal Psychology. International Journal of Religion.
  6. Al-Owidha, SMS. (2024). Islam and Psychoanalysis: Exploring the Intersection of Sufism and Psychoanalytic Self-Psychology.
  7. Saeed, B., Hasan, SS., & Ajmal, MA. (2021). Psychological impacts of Sufism in 21st century in Pakistan. Journal of Humanities, Social Sciences & Management.
  8. Firat, H. (2020). A Comparative Study of Jungian Psychology and Sufism.
  9. Saeed, A., & Sodiq, A. (2023). Tafakkur: A Contemplation of Students' Spiritual and Emotional Intelligence (in The Perspective of Sufism & Transpersonal Psychology).
  10. Alkaddour, L. (2019). The Psychology of Sufism as a Cultural and Mental Health Response to the Fundamentalist Mindset among Muslims.

 

You might also like: 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2025 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2024 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023 | 2023
=